Arsitektur Biologis berasal dari hubungan kata arsitektur
yang berarti “pembangunan”, bios yang berarti “kehidupan”, dan logos yang
berarti “dunia teratur” secara interdisipliner. Arsitektur sendiri
merupakan seni dalam imajinasi dan ilmu dalam merancang bangunan, maksudnya adalah
arsitektur yang merancang serta membangun keseluruhan lingkungan binaan dan
menuju pada hasil proses perancangan. Sedangkan Biologis adalah
ilmu alam yang mempelajari kehidupan serta organisme hidup termasuk struktur,
fungsi, pertumbuhan, evolusi, persebaran dan taksonominya. Jadi Arsitektur
Biologis adalah illmu penghubung yang mempelajari antara manusia dan lingkungan
secara keseluruhan. Arsitektur ini merupakan arsitektur kemanusiaan yang
memeperhatikan kesehatan.
Arsitektur Biologis lebih memanfaatkan potensi alam
berdasarkan pembangunan berwawasan lingkungan. Kualitas dari arsitektur sulit
diukur batasan antara arsitektur yang bermutu dan yang tidak bermutu. Kualitas
bisa dinilai dari bentuk bangunan serta konstruksi namun kurang mementingkan kualitas
penghuni yang dirasakan yang memungkinkan ketertarikan terhadap arsitektur
ini. Dalam Arsitektur Biologis diupayakan dalam perancangan
arsitektur memperhatikan aspek lingkungan serta meningkatkan
kualitas kehidupan.
Latar belakang
Arsitektur Biologis yang berkembang
sekarang adalah beberapa tahun terakhir isu daripemanasan global dijadikan
masalah yang disadari oleh banyak manusia sekarang. Diantaranya adalah tidak
seimbangnya ekosistem alam dari berbagai fenomena. Sehingga berbagai
pemimpin negara membahas permasalahan pemanasan global ini dan berbagai
komunitas serta lembaga swadaya masyarakat yang peduli terhadap lingkungan
muncul dimana-mana. Salah satu yang ditempuh untuk meningkatkan
kualitas lingkungan hidup adalah menciptakan bangunan yang ramah
lingkungan dari segi rancang bangun berupa desain atau material bangunannya. Bukan
untuk mengembangkan bangunan pencakar langit, namun memikirkan bangunan yang
ramah terhadap alam lingkungan sehingga muncul keseimbangan alam yang baik.
· Arsitektur
Tradisional merupakan Arsitektur Biologis
Arsitektur ini cocok dengan iklim daerah
setempat seperti di Indonesia. Contohnya adalah rumah dipedalaman seperti di
Irian Jaya suku Korowai di Merauke yaitu rumah diatas pohon yang perencanaan
bangunannya selaras dengan alam. Peralatan masih berupa batu karang dan kayu.
Penyelesaiannya selama 2 tahun dan bisa menampung 4-5 keluarga. Dinding rumah
dibuat dari pelepah daun nipah, pohon penghasil sagu. Alas rumah terbuat
dari kulit kayu balsa yang diserut menggunakan pisau karang.
Dan contoh lagi adalah perkampungan di Bali menggambarkan keselarasan manusia
dengan alam yang bentuk bangunannya disesuaikan dengan aktivitas dab fungsi
penghuni, bahan bangunannya dari bahan alami dan dibentuk dengan bantuan
konstruksi yang memperhatikan iklim.
Rumah adat yang berbentuk rumah pangggung salah satu contoh arsitektur
biologis zaman dahulu di Indonesia. Rumah adat ini sangat kokoh dibandingkan
dengan bangunan lain dibuktikan dengan peristiwa gempa yang pernah terjadi,
karena bobot bangunan ini ringan terbuat dari bambu dan kayu sehingga kuat
terhadap gempa. Pada era modern sekarang arsitektur biologis tidak harus sama
seperti bangunan rumah adat, lebih membuat rancangan bangunan yang efisien
terhadap sumber daya seperti listrik dan pendekatan ekologis seperti ramah
lingkungan, menjaga kelangsungan ekosistem, energi efisien, menekan
penggunaan sumber daya alam yang dapat diperbarui dengan cara daur ulang.
Ahli biologi dan arsitek Rudolf Doernach kelahiran Stuttgart-Jerman, memikirkan
bahwa setiap negara di dunia kini berusaha membangun perumahan dan kota masa
depan yang memperhatikan masalah penyelamatan lingkungan. Pengotoran udara oleh
industri dan kepadatan penduduk di perkotaan sangat merugikan masyarakat di
dunia. Arsitektur biologis merupakan alternatif berguna meringankan kerusakan
lingkungan akibat kemajuan teknologi. Sebaiknya pembangunan lingkungan harus
terdiri dari dinding dan atap hidup yang menyediakan oksida dan energi.
Pendidikan arsitektur
barat kurang tepat diterapkan di negara-negara berkembang seperti di Indonesia
yang memiliki kebudayaan yang berbeda-beda. Maka dari itu, arsitektur biologis
lebih mudah berkembang di Indonesia, arsitektur barat modern yang dibangun
menggunakan teknologi tinggi, lebih sering merusak dasar kehidupan manusia dan
lingkungan alamnya. Arsitektur biologis sebenarnya dibangun dari pembangunan
yang bersifat biologis kemudian berakhir ke pemikiran baru yang lebih mendalam,
bersifat ekologis, alternatif dan menuju ke masa depan kehidupan, pendidikan
dan pemukiman yang seimbang dengan alam.
Pada zaman dahulu untuk membangun rumah adat menggunakan bahan-bahan yang
diambil dari alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan sudah dipertimbangkan
rancang bangun yang dapat tahan oleh macam ancaman alam.
Konsep arsitektur
biologis saat ini menjadi lebih kontemporer. Arsitektur biologis mempergunakan
teknologi alamiah untuk mengurangi keadaan kritis alam yang sudah mulai
terancam, untuk meningkatkan kualitas kehidupan yaitu berupa kerohanian, dan
kualitas bangunan dengan bagian-bagian material.
Bahan-bahan bangunan
yang digunakan untuk mewujudkan arsitektur biologis adalah bahan-bahan bangunan
dari alam, seperti kayu, bambu, rumbia, alang-alang dan ijuk. Perencanaan
arsitektur biologis memperhatikan konstruksi yang sesuai dengan tempat bangunan
dibangun. Teknologinya sederhana, bentuk bangunannya ditentukan rangkaian bahan
bangunannya dan oleh fungsi menurut kebutuhan dasar penghuni dengan cara
membangunnya. Arsitektur tradisional merupakan contoh dari arsitektur biologis.
· Penerapan
Arsitektur Biologis
Kualitas bangunan
dengan menggunakan bagian bagian material dan rohani juga menentukan kualitas
lingkungan hidup manusia. Bahan-bahan bangunan yang digunakan dalam mewujudkan
arsitektur biologis adalah bahan-bahan bangunan dari alam. Bahan bangunan dari alam
yang dapat dibudidayakan lagi, digunakan dalam arsitektur biologis, seperti
contohnya kayu, bambu, rumbia, alang-alang dan ijuk. Bahan bangunan alamiah
lainnya yang dapat digunakan lagi menjadi bangunan alamiah adalah tanah liat,
tanah lempung dan batu alam, sedangkan bahan bangunan alam yang diproses oleh
pabrik atau industri adalah batu artifisial yang dibakar (batu merah), genting
flam, genting pres dan batu-batuan pres (batako).
Perencanaan arsitektur
biologis memperhatikan konstruksi yang sesuai dengan tempat bangunan itu
berada. Bentuk bangunan ditentukan oleh rangkaian bahan bangunannya. Konstruksi
bangunan yang digunakan ada yang bersifat masif (konstrtuksi tanah, tanah liat
dan lempung),berkotak (konstruksi batu alam dan batu-batu merah), serta
konstruksi bangunan rangka(kayu dan bambu).
Dalam konsep
arsitektur biologis lebih di arahkan untuk menjaga alam,perpaduan antara
manusia dengan alam artinya setiap bangunan yang akan di bangun tidak memiliki
dampak negatif terhadap alam dan dapat menciptakan suatu karya arsitektur yang
ramah lingkungan,
tahapan arsitektur
biologis dapat tercapai apabila :
1.Penggunaan material
yang ramah lingkungan
2.Membuat solusi untuk mengatasi dampak
negatif yang akan terjadi pada lingkungan sekitar.
Inovasi dan terobosan baru pada arsitektur
biologis adalah tema “Green Arsitektur” yang ramah lingkungan dengan
penghematan energi serta pemanfaatan lingkungan sebagai patokan utama pada tema
green arsitektur. Hal-hal yang mendukung green arsitek adalah:
1.Pengolahan air
Air
hujan mrupakan salah
satu yang perlu manajemen yang baik supaya tidak mengganggu kenyamanan. Air
hujan dialirkan melalui saluran-saluran (vertikal maupun horizontal) yang ada
di dalam lahan sebelum diteruskan ke sistem drainase kota. Pengaliran air dengan mengandalkan
sistem drainase
kota terbukti sudah tidak efektif dalam mengelola air hujan.Banjir besar di
Jakarta tahun 2002 dan 2007 merupakan bukti lemahnya sistem drainase
kota menghadapi air hujan.
Salah
satu alternatif pengolahan air hujan adalah menggunakan lubang resapan biopori.
Resapan biopori meningkatkan daya resapan air hujan dengan memanfaatkan peran
aktifitas fauna tanah dan akar tanaman.Lubang resapan biopori adalah lubang
silindris yang berdiameter
10-30 cm yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan kedalaman sekitar
100 cm. Dalam kasus tanah dengan permukaan air tanah dangkal, lubang biopori
dibuat tidak sampai melebihi kedalaman muka air tanah. Lubang kemudian diisi
dengan sampah organik untuk memicu terbentuknya biopori.
2. Hijau dirumah
Desain rumah yang
green architecture bisa diterapkan dirumah. Kesatuan antara arsitektur bangunan
rumah dan taman tentu harus selaras. Untuk mendekatkan diri dengan alam, fungsi
ruang dalam rumah ditarik keluar. Ruang tamu di taman teras depan, ruang makan
dan ruang keluarga ditarik ke taman belakang atau ke taman samping, atau kamar
mandi semi terbuka di taman samping. Fungsi ruang keluar menerus ke dalam
ruang. Ruang tamu atau ruang keluarga hingga dapur menyatu secara fisik dan
visual. Rumah dan taman mensyaratkan hemat bahan efisien, praktis, ringan, tapi
kokoh dan berteknologi tinggi, tanpa mengurangi kualitas bangunan.
Arsitektur hijau pada dekorasi dan perabotan
tidak perlu berlebihan, saniter lebih baik, dapur bersih, desain hemat energi,
kemudahan air bersih, luas dan jumlah ruang sesuai kebutuhan, bahan bangunan
berkualitas dan konstruksi lebih kuat, dan saluran air bersih. Keterbukaan
ruang-ruang dalam rumah yang mengalir dinamis. Ketinggian lantai yang cenderung
rata sejajar, distribusi void-void, pintu dan jendela tinggi lebar dari plafon
hingga lantai dilengkapi jalusi (krepyak), dinding transparan (kaca,
glassblock, fiberglass, kerawang, batang pohon), atap hijau (rumput) disertai
skylight.
Prinsip-prinsip Green Architecture
1. Conserving Energy
(Hemat Energi)
Lebih baik menjalankan
secara operasional suatu bangunan dengan sedikit mungkin menggunakan sumber
energi yang langka atau membutuhkan waktu yang lama untuk menghasilkannya
kembali. Solusi untuk mengatasinya adalah desain bangunan harus mampu
memodifikasi iklim dan dibuat beradaptasi dengan lingkungan bukan merubah
lingkungan yang sudah ada. Lebih jelasnya dengan memanfaatkan potensi matahari
sebagai sumber energi. Cara mendesain bangunan agar hemat energi, antara lain:
Banguanan dibuat
memanjang dan tipis untuk memaksimalkan pencahayaan dan menghemat energi
listrik. Memanfaatkan energi matahari yang terpancar dalam bentuk energi
thermal sebagai sumber listrik dengan menggunakan alat Photovoltaic yang
diletakkan di atas atap. Sedangkan atap dibuat miring dari atas ke bawah menuju
dinding timur-barat atau sejalur dengan arah peredaran matahari untuk
mendapatkan sinar matahari yang maksimal. Memasang lampu listrik hanya pada
bagian yang intensitasnya rendah. Selain itu juga menggunakan alat kontrol
pengurangan intensitas lampu otomatis sehingga lampu hanya memancarkan cahaya
sebanyak yang dibutuhkan sampai tingkat terang tertentu. Menggunakan Sunscreen
pada jendela yang secara otomatis dapat mengatur intensitas cahaya dan energi
panas yang berlebihan masuk ke dalam ruangan. Mengecat interior bangunan dengan
warna cerah tapi tidak menyilaukan, bertujuan untuk meningkatkan intensitas
cahaya. Bangunan tidak menggunakan pemanas buatan, semua pemanas dihasilkan
oleh penghuni dan cahaya matahari yang masuk melalui lubang ventilasi.
Meminimalkan penggunaan energi untuk alat pendingin (AC) dan lift.
2. Working with Climate (Memanfaatkan
energi alami)kondisi dan sumber
Melalui pendekatan
green architecture bangunan beradaptasi dengan lingkungannya, dilakukan dengan
memanfaatkan kondisi alam, iklim dan lingkungannya sekitar ke dalam bentuk
serta pengoperasian bangunan, misalnya dengan cara:
· Orientasi bangunan terhadap sinar matahari.
· Menggunakan sistem air pump dan cros
ventilation untuk mendistribusikan udara yang bersih dan sejuk ke dalam
ruangan.
· Menggunakan tumbuhan dan air sebagai pengatur
iklim. Misalnya dengan membuat kolam air di sekitar bangunan.
· Menggunakan jendela dan atap yang sebagian
bisa dibuka dan ditutup untuk mendapatkan cahaya dan penghawaan yang sesuai
kebutuhan.
3. Respect for Site
(Menanggapi keadaan tapak pada bangunan)
Perencanaan mengacu
pada interaksi antara bangunan dan tapaknya. Hal ini dimaksudkan keberadan
bangunan baik dari segi konstruksi, bentuk dan pengoperasiannya tidak merusak
lingkungan sekitar, dengan cara sebagai berikut.
· Mempertahankan kondisi tapak dengan membuat
desain yang mengikuti bentuk tapak yang ada.
· Luas permukaan dasar bangunan yang kecil,
yaitu pertimbangan mendesain bangunan secara vertikal.
· Menggunakan material lokal dan material yang
tidak merusak lingkungan.
4. Respect for User (Memperhatikan pengguna bangunan)
Antara pemakai dan
green architecture mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Kebutuhan green
architecture harus memperhatikan kondisi pemakai yang didirikan di dalam
perencanaan dan pengoperasiannya.
5. Limitting New
Resources (Meminimalkan Sumber Daya Baru)
Suatu bangunan
seharusnya dirancang mengoptimalkan material yang ada dengan meminimalkan
penggunaan material baru, dimana pada akhir umur bangunan dapat digunakan
kembali unutk membentuk tatanan arsitektur lainnya.
6. Holistic
Memiliki pengertian
mendesain bangunan dengan menerapkan 5 poin di atas menjadi satu dalam proses
perancangan. Prinsip-prinsip green architecture pada dasarnya tidak dapat
dipisahkan, karena saling berhubungan satu sama lain. Tentu secar parsial akan
lebih mudah menerapkan prinsip-prinsip tersebut. Oleh karena itu, sebanyak
mungkin dapat mengaplikasikan green architecture yang ada secara keseluruhan
sesuai potensi yang ada di dalam site/
Perbedaan Arsitektur
Ekologi, Arsitektur Biologi, Arsitektur Lingkungan :
Arsitektur
Ekologi di konsep dengan
pendesainan yang dilakukan dengan pendekatan dengan alam, alam sebagai dasar
dalam desain si arsitek. Proses pendekatan ini menggabungkan teknologi dengan
alam. menggunakan alam sebagai basis design, strategi konservasi, perbaikan
lingkungan, dan bisa diterapkan pada semua tingkatan dan skala untuk
menghasilkan suatu bentuk bangunan, lansekap, permukiman dan kota yang
revolusioner dengan menerapkan teknologi dalam perancangannya. Perwujudan dari
desain ekologi arsitektur adalah bangunan yang berwawasan lingkungan yang
sering disebut dengan green building.
Arsitektur Biologi di konsep dengan biologis, para arsitek
diajak memahami bangunan sebagai sebuah bangunan organis, untuk meningkatkan
kualitas kehidupan. Kualitas bangunan dengan bagian-bagian material dan rohani
menentukan kualitas lingkungan hidup manusia.Bahan-bahan bangunan yang
digunakan dalam mewujudkan arsitektur biologis adalah bahan-bahan bangunan dari
alam. Bahan bangunan alam yang dapat dibudidayakan lagi,digunakan dalam
arsitektur biologis.
Arsitektur Lingkungan di konsep dengan sesuatu yang berkaitan
dengan perencanaan tata kota, landscape planning, urban design, interior maupun
eksterior yang memperhatikan kondisi fisik sumber daya alam, yang meliputi air,
tanah, udara, iklim, cahaya, bunyi dan kelembapan. Arsitektur lingkungan sangat
berkaitan erat dengan arsitektur hijau (green architectur) karena sama – sama
berhubungan dengan sumber daya alam.
Perencanaan Dan Perancangan Arsitektur Biologis
Ulasan Candi Borobudur (Magelang)
Borobudur merupakan candi Budha dan dikenal sebagai candi
terbesar di Indonesia, bahkan seluruh dunia. Candi Budha terbesar ini berada di
kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia yang tepatnya berada sekitar 100
km sebelah barat laut dari kota Jogja. Walaupun candi ini berada di Magelang
namun keberadaannya sering dijadikan sebagai salah satu tujuan destinasi wisata
di Jogja. Kabarnya, candi yang mempunyai bentuk stupa ini sudah didirikan pada
tahun 800. Hingga sekarang, Candi Brobudur ini masih digunakan juga sebagai
tempat beribadah.
Hal yang unik dari
candi borobudur adalah balok yang digunakan sebagai bahan utama konstruksi
bangunan terbuat dari abu vulkanik Gunung Merapi yang dibekukan. Balok-balok
ini kemudian disusun membentuk lebih dari 500 buah arca tanpa menggunakan semen
sama sekali. Luar biasa bukan, Tak hanya itu, candi ini juga penuh dengan
pahatan relief yang menceritakan perjalanan hidup Sang Buddha.
Borobudur juga tidak hanya memiliki nilai seni yang teramat
tinggi, karya agung yang menjadi bukti peradaban manusia pada masa lalu ini
juga sarat dengan nilai filosofis. Mengusung konsep mandala yang melambangkan
kosmologi alam semesta dalam ajaran Buddha, bangunan megah ini dibagi menjadi
tiga tingkatan, yakni dunia hasrat atau nafsu (Kamadhatu), dunia bentuk
(Rupadhatu), dan dunia tanpa bentuk (Arupadhatu).
EKSPLOITASI - Candi borobudur
Nama : Dimas Yulinko I
Kelas : 2TB03
NPM : 22316068
Lingkungan Alam dan Buatan di Lingkungan sekitar kita
- Lingkungan Alam
Jenis
lingkungan yang pertama adalah jenis lingkungan alam. Lingkungan alam merupakan
lingkungan yang terjadi dengan sendirinya dan tanpa adanya campur tangan dari
manusia. dengan kata lain lingkungan alam merupakan lingkungan yang sudah ada
dari saat seseorang belum dilahirkan. Lingkungan alam merupakan lingkungan yang
diciptakan oleh Tuhan. Contohnya seperti; sungai, gunung, laut dll
- Lingkungan Buatan
Berbeda
dengan lingkungan alam yang dapat terbentuk dengan sendirinya, lingkungan
buatan justru melibatkan kreativitas dan keuletan dari tangan manusia. Ya,
lingkungan buatan merupakan kebalikan dari lingkungan alam. Lingkungan buatan
merupakan lingkungan yang terbentuk karena adanya tindakan oleh manusia.
Sehingga tanpa adanya tindakan dari manusia, maka lingkungan buatan tidak akan
ada untuk digunakan manusia atau masyarakat banyak. Pengertian singkat
lingkungan buatan adalah yang sengaja dibentuk oleh manusia agar dapat memenuhi
hasrat atau keinginan atau bahkan kebutuhan manusia yang jumlahnya selalu
tidak terbatas. Contohnya: kebun buah, taman, bendungan
Manfaat
kedua lingkungan tersebut, Lingkungan alam untuk pariwisata,sumber makanan
& sumber pengetahuan, lalu lingkungan buatan untuk menapung air
hujan(waduk),mengaiiri sawah,tempat bekerja ato tinggal
Interaksi Manusia
dengan Lingkungan Alam, Sosial, Budaya, dan Ekonomi
1.
Interaksi Manusia dengan Lingkungan Alam
Lingkungan alam adalah
lingkungan yang terbentuk secara alamiah tanpa campur tangan manusia.
Lingkungan alam mencakup semua benda hidup dan tak hidup yang terjadi secara
alamiah di bumi.
Lingkungan alam terdiri atas komponen abiotik
dan biotik.
· Biotik : komponen lingkungan yg terdiri atas
makhluk hidup
Contoh : produsen (tumbuhan),
konsumen (binatang, manusia) dan pengurai
· abiotik : komponen lingkungan yg terdiri atas
benda tak hidup,
contoh : tanah, air, udara
Interaksi antara manusia dan alam dapat dikelompokkan menjadi
dua yaitu interaksi yang menyesuaikan diri dengan alam dan interaksi yang
mendominasi alam.
·
Interaksi manusia yang menyesuaikan diri dengan alam contohnya
adalah hidup dekat dengan sumber makanannya. Manusia menyesuaikan waktu tanam
dengan musim penghujan, waktu untuk berlayar menyesuaikan dengan keadaan cuaca,
menghindari tinggal di daerah rawan bencana alam, dan lain-lain.
·
Interaksi manusia yang mendominasi alam. Ilmu pengetahuan dan
teknologi yang dimiliki manusia cenderung melakukan upaya mengambil sumber
daya alam. Bahkan, manusia berupaya memodifikasi cuaca dengan mengembangkan
teknologi hujan buatan.
Namun
demikian, sampai saat ini manusia belum mampu memperkirakan kapan gempa bumi
akan terjadi, jam berapa gunung akan meletus, dan seterusnya.
2.
Interaksi Manusia dengan
Lingkungan Sosial
Manusia perlu berhubungan atau berkomunikasi
dengan yang lainnya. Maka terjadilah apa yang dinamakan proses sosial. Proses
sosial adalah suatu interaksi atau hubungan saling memengaruhi antarmanusia.
Proses sosial ini akan terjadi kalau ada interaksi sosial. Interaksi sosial
adalah hubungan-hubungan antara orang perorangan, antara kelompok manusia,
maupun antara orang perorangan dan kelompok manusia.
Dalam
interaksi sosial, hubungan yang terjadi harus secara timbal balik dilakukan
oleh kedua belah pihak. Artinya kedua belah pihak harus saling merespon. Proses
interaksi sosial akan terjadi apabila di antara pihak yang berinteraksi
melakukan kontak sosial dan komunikasi.
Berlangsungnya
suatu proses interaksi sosial didorong oleh beberapa faktor, antara lain
sebagai berikut:
a. Faktor Imitasi
Menurut
Gabriel Tarde (2003: 66), imitasi berasal dari kata imitation, yang berarti
peniruan. imitasi merupakan proses seseorang mencontoh orang lain atau kelompok
b. Faktor Sugesti
Sugesti
artinya pengaruh yang dapat menggerakan hati orang. Faktor sugesti ini akan
terjadi apabila kemampuan berpikir seseorang terhambat sehingga orang itu
melakukan pandangan orang lain. Selain itu sugesti akan terjadi kalau orang
yang memberi sugesti memiliki wibawa/terpandang di bidangnya atau juga sugesti
itu terjadi jika pandangan itu didukung oleh sebagian orang (mayoritas).
c. Faktor Identifikasi
Identifikasi
merupakan kecenderungan-kecenderungan atau keinginan-keinginan dalam diri
seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain. Proses ini dapat berlangsung
dengan sendirinya, sehingga pandangan dan sikap orang lain bisa masuk ke dalam
jiwanya. Misalnya, kita mengidolakan seseorang sehingga semua tingkah laku
orang itu kita lakukan.
d. Faktor Simpati
Simpati
merupakan suatu proses ketika seseorang merasa tertarik kepada orang lain.
Simpati akan muncul melalui perasaan yang memegang peranan sangat penting.
Faktor simpati yang utama adalah ingin mengerti dan ingin bekerjasama dengan
orang lain.
3. Interaksi Manusia dengan Lingkungan Budaya
Manusia
tidak bisa hidup sendiri untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya. Manusia
mempunyai kecendrungan untuk hidup berkelompok dan bermasyarakat. Dalam
kehidupan bermasyarakat, kita harus dapat beradaptasi dengan lingkungan,
termasuk dalam hal perilaku, aturan, nilai, norma, kepercayaan dan adat
istiadat yang berlaku di lingkungan tersebut.
Perilaku,
aturan, nilai, norma, kepercayaan dan adat istiadat merupakan bagian dari
kebudayaan. Kebudayaan merupakan salah satu unsur penting yang dimiliki oleh
suatu masyarakat. Melalui kebudayaan itu, dapat terlihat ciri khas setiap suku.
Kita seharusnya mengetahui tentang kebudayaan bangsa yang beranekaragam hingga
dapat menyesuaikan diri terhadap aturan-aturan dan cara-cara beradaptasi
terhadap lingkungan. Hal ini bertujuan agar keberadaan kita dapat diterima
dalam suatu kelompok masyarakat.
4. Interaksi Manusia dengan Lingkungan Ekonomi
Lingkungan
ekonomi adalah faktor ekonomi yang memengaruhi jalannya usaha atau kegiatan
ekonomi. Faktor pendukung kegiatan ekonomi adalah kebijakan ekonomi pemerintah,
pendapatan masyarakat, sumber daya ekonomi yang tersedia dan sebagainya.
Manusia
dalam kehidupan sehari-hari melakukan interaksi dengan lingkungan ekonominya.
Mereka melakukan aktivitas ekonomi dengan memanfaatkan sumber daya ekonomi yang
tersedia. Sumber daya ekonomi adalah alat yang digunakan untuk memenuhi
kebutuhan manusia, baik berupa barang maupun jasa. Sumber daya alam, tenaga
kerja, modal dan kewirausahaan merupakan sumberdaya ekonomi. Sumber daya alam
dapat berupa lahan, bahan tambang, hewan, tumbuhan dan sebagainya. Tenaga kerja
merupakan sumber daya untuk menghasilkan barang dan jasa.
(Arsitektur Lingkungan) Tentang Lingkungan Alam, Buatan serta interaksi Lingkungan Sosial, Budaya, dan Ekonomi
Nama : Dimas Yulinko Ishlah
Kelas : 2TB03
NPM : 22316068
PENGERTIAN ARSITEKTUR
LINGKUNGAN
Berdasarkan kamus, kata arsitektur
(architecture), berarti seni dan ilmu membangun bangunan. Menurut
asal kata yang membentuknya, yaitu Archi = kepala, dan
techton = adalah karya kepala tukang.
Arsitektur adalah seni yang dilakukan
oleh setiap individual untuk berimajinasikan diri mereka dan ilmu dalam merancang bangunan.
Dalam artian yang lebih luas, arsitektur mencakup merancang dan
membangun keseluruhan lingkungan binaan, mulai dari level makro
yaitu perencanaan kota, perancangan perkotaan, arsitektur lanskap, hingga ke level
mikro yaitu desain bangunan, desain perabot dan desain produk.
Arsitektur juga merujuk kepada hasil-hasil proses perancangan tersebut.
Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup
keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta
flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam
lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti
keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut. Lingkungan juga
dapat diartikan menjadi segala sesuatu yang ada di sekitar manusia dan mempengaruhi
perkembangan kehidupan manusia. Lingkungan terdiri dari komponen abiotik dan biotik.
Komponen abiotik adalah segala yang tidak bernyawa seperti
tanah, udara, air, iklim, kelembaban, cahaya, bunyi.
Sedangkan komponen biotik adalah segala sesuatu yang bernyawa seperti
tumbuhan, hewan, manusia dan mikro-organisme (virus
dan bakteri). Ilmu yang mempelajari lingkungan adalah ekologi.
Arsitektur lingkungan adalah ilmu bangun membangun yang berkaitan dengan
perencanaan tata kota, landscape planning, urban
design, interior maupun eksterior yang memperhatikan kondisi fisik
sumber daya alam, yang meliputi
air, tanah, udara, iklim, cahaya, bunyi
dan kelembapan. Arsitektur lingkungan sangat berkaitan erat dengan
arsitektur hijau (green architectur).
Prinsip-prinsip ekologi dalam arsitektur
·
Ekologi
Ekologi berasal dari bahasa Yunani yaitu oikos yang artinya rumah atau
tempat hidup, dan logos yang berarti ilmu. Ekologi diartikan sebagai ilmu yang
mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk
hidup dan lingkungannya. Ekologi adalah cabang ilmu biologi yang banyak
memanfaatkan informasi dari berbagai ilmu pengetahuan lain, seperti : kimia,
fisika, geologi, dan klimatologi untuk pembahasannya.
· Ekologi dan Arsitektur
Arsitektur ekologis merupakan pembangunan
berwawasan lingkungan, dimana memanfaatkan potensi alam semaksimal mungkin.
Info lingkungan
Kualitas arsitektur biasanya sulit diukur, garis batas antara
arsitektur yang bermutu dan yang tidak bermutu. Kualitas arsitektur biasanya
hanya memperhatikan bentuk bangunan dan konstruksinya, tetapi mengabaikan yang
dirasakan sipengguna dan kualitas hidupnya. Apakah pengguna suatu bangunan
merasa tertarik.
Pola Perencanaan
Eko-Arsitektur selalu memnfaatkan alam sebagai berikut :
·
Dinding, atap sebuah
gedung sesuai dengan tugasnya, harus melidungi sinar panas, angin dan hujan.
·
Intensitas energi baik
yang terkandung dalam bahan bangunan yang digunakan saat pembangunan harus
seminal mungkin.
·
Bangunan sedapat
mungkin diarahkan menurut orientasi Timur-Barat dengan bagian Utara-Selatan
menerima cahaya alam tanpa kesilauan
·
Dinding suatu bangunan
harus dapat memberi perlindungan terhadap panas. Daya serap panas dan tebalnya
dinding sesuai dengan kebutuhan iklim/ suhu ruang di dalamnya. Bangunan yang
memperhatikan penyegaran udara secara alami bisa menghemat banyak energi.
Arsitektur, Manusia, dan Lingkungan:
Kaitan Arsitektur dengan Kebutuhan Manusia:
· Kebutuhan akan subsistensi, merupakan
kebutuhan setiap orang untuk mempertahankan eksistensinya dan individualitasnya
baik pada tatanan fisik maupun psikis.
· Kebutuhan akan perkembangan atau pertumbuhan,
yaitu kebutuhan untuk mengembangkan potensialitasnya.
· Kebutuhan akan transendensi,yaitu kebutuhan
yang mendorong manusia untuk mengatasi individualisnya untuk berkomunio dan
berkomunikasi dengan orang lain, dengan alam dan dengan kekuatan yang mengatasi
dirinya atau dengan yang transenden. Kebutuhan ini juga disebut sebagai kebutuhan akan makna
kehidupan.
Hubungan saling
pengaruh antar manusia, lingkungan dan arsitektur:
Manusia sebagai sosial
sistem, lingkungan alam sebagai ekosistem dan bentukan-bentukan arsitektur
sebagai perpaduan hasil sosial sistem dan ekosistem saling berhubungan erat dan
saling mempengaruhi satu dengan lainnya.
DAMPAK POSITIF DAN NEGATIF PEMBNGUNAN TERHADAP
LINGKUNGAN
POSITIF :
· Memperhatikan hubungan antara ekologi dan arsitektur, yaitu
hubungan antara massa bangunan dengan makhluk hidup yang ada disekitar
lingkungannya, tak hanya manusia tetapi juga flora dan faunanya. Arsitektur sebagai
sebuah benda yang dibuat oleh manusia harus mampu menunjang kehidupan dalam
lingkugannya sehingga memberikan timbal balik yang menguntungkan untuk kedua
pihak. Pendekatan ekologis dilakukan untuk menghemat dan mengurangi dampak –
dampak negatif yang ditimbulkan dari terciptanya sebuah massa bangunan, akan
tetapi dengan memanfaatkan lingkungan sekitar. Contoh terapannya yaitu,
munculnya trend green design.
· Memberikan dampak pada estetika bangunan
· Dapat memberikan pemecahan masalah pada tata letak bangunan
atau kota.
· Memperhatikan kondisi lahan yang akan dibangun. Sebagai
contoh bila bangunan akan didirikan pada lahan yang memiliki kemiringam, maka
dengan pendekatan ekologis bisa dicarikan solusinya seperti memperkuat pondasi,
atau menggabungkan unsur alam pada lingkungan dengan bangunan yang ada sehingga
semakin estetis bangunan yang tercipta.
NEGATIF :
1.
Kerusakan tanah
Kerusakan tanah salah satunya terjadi sebagai
dampak negatif pembangunan. Dampak kerusakan tanah tersebut merupakan masalah
bagi pembangunan yang pada akhirnya kan mempengaruhi jalannya proses
pembangunan itu sendiri. Kerusakan tanah secara garis besar terjadi oleh
pengaruh proses erosi, penjernihan tanah, kehilangan unsur hara, serta
terakumulasinya zat pencemar dalam tanah. Proses-proses tersebut terjadi
diantaranya dipicu oleh adanya pembangunan yang tidak memperhatikan segi lingkungan.Kerusakan
tanah terjadi sebagai akibat eksplorasi lahan yang tidak terkontrol dan kurang
memperhatikan unsur lingkungan gunan mendukung jalannya pembangunan.
Pembangunan dalam realitanya sering kali lebih mengutamakan nilai ekonomis dan
mengabaikan aspek lingkungan.
Kerusakan tanah juga dapat menyebabkan
rusaknya bangunan tersebut secara perlahan lahan kerena tidak stabilnya tanah
itu
2.
Berkurangnya penghijauan di kota
Berkurangnya penghijauan di kota ini seperti
pohon pohon di pinggir jalan, taman kota yang dialihgunakan menjadi bangunan perkantoran, hal ini mengurangi
resapan air yang ada di kota Jakarta ini, dan dengan kurangnya penghijauan di
kota ini lah salah satunya yangmenyebabkan efek panas yang sangat terik
mengingat Indonesia adalah Negara yang tropis, polusi udara yang disebabkan
oleh kendaraan, dan masih banyk lagi.
3.
Banjir
Hal ini sangat bersangkutan dari keerusakan tanah dan kurangnya
penghijauan tersebut , yang mengakibatkan kurngnya resapan air dan juga
dikarenakannya pemakaian yang seharusnya menjadi lahan hijau yang digunakan
untuk pembangunan gedung gedung dan pemakaian plester penuh yang digunakan
untuk setiap pembangunan kota
KESIMPULAN :
Merancang dengan memperhatikan lingkungan
tanpa membahayakan lingkungan, diperlukan pengetahuan dan pemahaman yang luar
biasa terhadap lingkungaan. Seorang arsitek harus banyak belajar dan belajar
dan berusaha tidak egois dalam merancang. Kalau dilihat dari sudut pandang
lain, memang hampir tidak ada yang tanpa resiko. Membangun tapi merusak
lingkungan, tanpa membangun kita juga tidak akan maju. Karena itulah arsitek
diharuskan untuk tidak hanya belajar dan memahami, tapi merancang dengan
menerapkan seluruh apa yang sudah dipelajari dan ketahui, tidak egois dan
mencintai lingkungan sekitarnya seperti ia mencintai dirinya sendiri, dan juga
dituntut untuk mengerti akan segala seluk beluk bangunan,site dan lingkungan,
dampak positif dan dampak negatif pun sangat mempengaruhi arsitek tersebut,
tetapi memang sangat disayangkan, orang-orang sekarang ini terlahir dengan
sifat ego yang tinggi, yang penting hanya ingin menang ( tidak mau kalah) tanpa
memikirkan lingkungan sekitarnya.
DAFTAR PUSTAKA
https://diniindahsaraswati.wordpress.com/2015/10/26/arsitektur-lingkungan-2/
https://www.scribd.com/doc/249467118/Arsitektur-Lingkungan
https://id.wikipedia.org/wiki/Arsitektur
https://id.wikipedia.org/wiki/Lingkungan
x
